"Kok bisa ya. Manusia hidup harus dengan effort 100%. Kalau nikah ya otomatis suami istri keduanya harus sama sama usaha 100% juga, jadinya 200%. Kok ada lakik minta dia cuma bayar setengahnya. Alias 50:50 Berarti 100 dan 100 kalau lakiknya cuma 50,wanitanya nanggung 150. Wah semoga umur laki laki sial itu diskon 75%. Nyusahin wanita aja."
Tulis seorang netizen.
Effort hidup sudah butuh effort ga main-main,nikah tentu butuh usaha 200%.
Konsep "50:50" yang sering digembar-gemborkan pria-pria seperti itu biasanya hanya menghitung pengeluaran finansial belaka, tetapi secara licik mengabaikan seluruh beban fisik dan emosional yang ada di dalam rumah tangga.
Alasan mengapa pembagian 50:50 dalam finansial itu hampir selalu merugikan wanita:
Beban Fisik dan Unpaid Labor: Wanita membawa beban biologis yang tidak bisa dibagi dua—mulai dari hamil, melahirkan, hingga menyusui. Belum lagi urusan pengasuhan anak, mengurus rumah, hingga detail-detail kecil yang menguras pikiran (mental load). Jika finansial dibagi 50:50, tetapi urusan domestik dan anak tetap jatuh 80–100% ke istri, itu bukan kesetaraan, melainkan pemerasan tenaga.
Perbedaan Ketimpangan Gender di Dunia Kerja: Secara realita pasar kerja, ketimpangan gaji (gender pay gap) dan peluang karier wanita sering kali terhambat ketika sudah menikah atau memiliki anak. Menuntut kontribusi uang yang sama persis tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi ini adalah sikap yang sangat egois.
Niat Melepas Tanggung Jawab Utama:
Pria yang sejak awal menuntut 50:50 biasanya bukan sedang mencari mitra yang setara, melainkan sedang mencari cara agar hidupnya tetap nyaman, uang tabungannya aman, tetapi tetap mendapatkan semua fasilitas pelayanan dari seorang istri. Istilahnya budak gratisan.
Pernikahan yang sehat itu memang tentang dua orang yang sama-sama memberikan 100% komitmen, usaha, dan empati terbaik mereka, bukan hitung-hitungan transaksi yang membuat salah satu pihak kepayahan menanggung 150% sendirian.
Jika sebuah pernikahan membutuhkan total energi dan usaha gabungan sebesar 200% (di mana suami berkontribusi 100% dan istri berkontribusi 100%), maka:
Total kebutuhan usaha: 200\%
Kontribusi suami: 50\%
Sisa usaha yang harus ditanggung istri: 200\% - 50\% = 150\%
Ketika seorang pria hanya mau memberikan usaha separuh (50\%), sementara standar total komitmen rumah tangga yang utuh adalah 200\%, maka pasangan wanitanya secara otomatis terpaksa menanggung sisa 150\% agar rumah tangga tersebut tetap bisa berjalan. Dan itu jelas ketidakadilan.

No comments:
Post a Comment