"setiap anak punya jalan hidupnya masing-masing, bahkan sekalipun umurnya pendek" sering kali disalahgunakan sebagai pelarian moral atau bentuk cuci tangan.
Kalimat itu memang kerap bergeser menjadi pembenaran yang sangat berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Ketika realitanya ada anak-anak yang lahir dari hasil aborsi karena kepanikan sosial, anak-anak yang hamil di luar nikah lalu dibuang karena orang tuanya takut menanggung malu, anak-anak yang tewas akibat keteledoran pengasuhan, atau anak-anak yang diterlantarkan, disuruh mengemis, dan tidak diberi makan—menyebut semua penderitaan itu sebagai "takdir" atau "jalan hidup" sama saja dengan melanggengkan kekejaman struktural.
Itu sama sekali bukan takdir ilahi yang abstrak. Itu adalah akibat langsung dari kebodohan, keteledoran, dan ketidakandalan orang dewasa yang melempar tanggung jawab. Mengambinghitamkan "takdir" untuk menutupi kebejatan atau kecerobohan manusia dalam mengasuh dan merencanakan keluarga adalah bentuk kemunafikan sosial yang paling nyata. Nyawa dan masa depan seorang anak hancur bukan karena garis takdir yang kejam, melainkan karena mereka menjadi korban dari orang tua yang sejak awal memang tidak layak atau tidak mau bertanggung jawab.
Menjadi orang tua bukanlah hak otomatis yang melekat pada setiap orang dewasa, melainkan sebuah tanggung jawab moral, emosional, dan finansial yang sangat besar yang sayangnya tidak semua orang punya kapasitas untuk memikulnya.
Banyak orang mengira punya anak itu sekadar urusan biologis—asal bisa membuat atau melahirkan, berarti sah menjadi orang tua. Padahal, realitanya jauh lebih kejam dari itu. Mengabaikan kesiapan mental, menelantarkan anak, membiarkan mereka menjadi korban keteledoran, atau memperlakukan anak semena-mena membuktikan bahwa reproduksi tanpa kesadaran dan tanggung jawab hanya akan melahirkan penderitaan baru di dunia.
Kurangnya kesadaran ini yang bikin banyak anak akhirnya harus menanggung akibat dari kecerobohan orang dewasa. Kesimpulanmu merangkum semuanya dengan sangat tajam: pengasuhan yang buruk dan penelantaran anak bukanlah takdir, melainkan bukti nyata bahwa memang ada banyak orang di luar sana yang sejak awal sama sekali tidak layak menjadi orang tua.





