.
Ada satu perubahan sosial yang menurut saya semakin jelas: perempuan semakin berani mengatakan tidak.
Tidak mau menikah.
Tidak mau punya anak.
Tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak menghargainya.
Tidak mau menjadi pengurus rumah tangga sekaligus ibu, sementara pasangan hanya merasa dirinya “membantu”.
Dan ketika perempuan mulai berani membuat pilihan seperti itu, reaksi laki-laki ternyata berbeda-beda.
Ada yang marah.
Ada yang merasa harga dirinya diserang.
Ada yang kemudian semakin membenci perempuan dan menyalahkan perempuan atas kesepian mereka.
Tetapi ada juga laki-laki yang justru melakukan sesuatu yang jauh lebih masuk akal:
bercermin.
Kalau saya tidak bisa menjadi pasangan yang baik, mengapa saya berharap perempuan tetap memilih saya?
Ini sebenarnya pertanyaan sederhana.
Kalau seorang laki-laki ingin memiliki pasangan, tetapi tidak mau belajar mengurus dirinya sendiri, tidak mau memasak, tidak mau membersihkan rumah, tidak mau mengurus anak, tidak mau terlibat secara emosional, dan menganggap semua itu “pekerjaan perempuan”, mengapa dia merasa perempuan harus tetap bersedia menikah dengannya?
Perempuan juga bekerja.
Perempuan juga punya karier.
Perempuan juga membayar kebutuhan rumah.
Perempuan juga lelah.
Maka rumah tangga bukanlah “kos bersama dengan patungan 50:50.”
Pernikahan adalah kehidupan bersama.
Dalam banyak hal, pasangan yang sehat bukan 50:50, tetapi 100:100.
Keduanya memberikan seluruh kemampuan yang mereka punya sesuai keadaan, bukan menghitung:
> “Aku sudah melakukan ini, berarti kamu harus melakukan itu.”
Menjadi pasangan bukan sekadar menjadi pencari nafkah
Laki-laki memang bisa memiliki tanggung jawab sebagai penyedia nafkah. Tetapi menjadi suami dan ayah tidak berhenti pada memberikan uang.
Ada bayi yang harus digendong.
Ada popok yang harus diganti.
Ada makanan yang harus dimasak.
Ada cucian yang harus dilipat.
Ada rumah yang harus dibereskan.
Ada istri yang mungkin pulang dalam keadaan sangat lelah.
Ada anak yang membutuhkan ayahnya.
Dan semua itu bukan pekerjaan “membantu istri”.
Itu pekerjaan anggota keluarga.
Saya justru senang melihat semakin banyak laki-laki muda di Asia yang mulai menunjukkan hal semacam ini di media sosial.
Ada laki-laki yang bekerja kantoran, pergi ke gym, punya karier, tetapi pulang ke rumah tetap memasak.
Ada yang belajar baking.
Ada yang belajar mengurus bayi.
Ada yang mengganti popok, memandikan anak, membuat bubur, mencuci pakaian, mengambil jemuran dan melipatnya.
Ada yang menggendong bayinya sementara istrinya beristirahat.
Bahkan ada yang memijat istrinya ketika istrinya kelelahan.
Dan menurut saya, itu bukan hilangnya maskulinitas.
Justru sebaliknya.
Itu menunjukkan bahwa seorang laki-laki cukup dewasa untuk memahami bahwa keluarganya bukan hotel yang menyediakan layanan gratis.
Perempuan juga sedang berubah
Perempuan sekarang melihat lebih banyak pilihan hidup.
Mereka bisa bekerja.
Bisa hidup mandiri.
Bisa mendapatkan pendidikan.
Bisa memilih tidak menikah.
Bisa memilih tidak mempunyai anak.
Karena itu, standar hubungan juga berubah.
Pertanyaan perempuan bukan lagi hanya:
> “Apakah laki-laki ini bisa menghidupi saya?”
Tetapi juga:
> “Apakah hidup saya akan menjadi lebih baik jika saya hidup bersamanya?”
Itu pertanyaan yang sangat berbeda.
Kalau seorang perempuan bekerja delapan jam sehari lalu pulang dan masih harus mengurus seluruh rumah, memasak, membersihkan, mengurus anak, mengingat jadwal sekolah, membeli kebutuhan rumah, mengurus kesehatan keluarga, sekaligus menjadi tempat curhat suaminya—sementara suaminya merasa tugasnya selesai setelah membawa pulang gaji—
maka perempuan punya alasan untuk bertanya:
“Untuk apa saya menikah?”
Media sosial sebenarnya memperlihatkan dua kemungkinan
Sering ada keluhan bahwa perempuan sekarang memiliki standar hubungan yang tidak realistis karena TikTok dan Instagram.
Tetapi ada sisi lain yang jarang dibicarakan.
Laki-laki juga melihat contoh laki-laki lain yang menjadi pasangan yang baik.
Mereka melihat pria yang setia.
Pria yang menyayangi anaknya.
Pria yang memasak.
Pria yang membersihkan rumah.
Pria yang mau belajar merawat bayi.
Pria yang hadir secara emosional untuk istrinya.
Jadi kalau seorang laki-laki merasa:
> “Kenapa perempuan sekarang menuntut macam-macam?”
mungkin ada baiknya melihat apa yang sebenarnya dituntut perempuan.
Apakah mereka meminta sesuatu yang mustahil?
Atau sebenarnya mereka hanya meminta:
kesetiaan, rasa hormat, tanggung jawab, kebersihan, kemampuan mengurus diri, kemampuan mengurus rumah, dan kemauan menjadi partner?
Kalau standar itu terasa terlalu tinggi, mungkin masalahnya bukan standar perempuan.
Ketika perempuan berkata “tidak”, jangan selalu menganggapnya sebagai serangan
Ada laki-laki yang ketika ditolak langsung mencari kambing hitam.
Perempuan dianggap terlalu pemilih.
Terlalu feminis.
Terlalu banyak menuntut.
Terpengaruh TikTok.
Tidak tahu bersyukur.
Padahal mungkin pesan yang lebih sederhana sedang muncul:
> “Cara lama tidak lagi bekerja.”
Dan menurut saya, laki-laki yang paling siap menghadapi masa depan bukanlah laki-laki yang berusaha memaksa perempuan kembali menerima standar lama.
Melainkan laki-laki yang berkata:
> “Kalau saya ingin memiliki pasangan yang mandiri, saya juga harus menjadi pasangan yang layak bagi perempuan mandiri.”
Itu bukan kekalahan.
Itu adaptasi.
Akan selalu ada orang yang memilih tidak berubah
Tentu saja, kita tidak bisa berharap semua orang berubah.
Akan selalu ada laki-laki yang merasa perempuan harus tunduk.
Akan selalu ada yang menganggap pekerjaan rumah adalah pekerjaan perempuan.
Akan selalu ada yang menganggap dirinya berhak mengontrol pasangan.
Dan akan selalu ada orang yang memilih marah daripada belajar.
Tetapi mungkin kita tidak perlu menghabiskan seluruh energi untuk meyakinkan mereka.
Biarkan perubahan sosial berjalan.
Generasi baru akan menentukan sendiri hubungan seperti apa yang mereka inginkan.
Laki-laki yang mampu beradaptasi akan menemukan pasangan yang juga ingin membangun kehidupan bersama.
Laki-laki yang tidak mau berubah harus menerima bahwa perempuan juga memiliki hak untuk berkata:
> “Kalau begitu, saya memilih hidup sendiri.”
Dan bagi saya, itulah salah satu perubahan yang paling menarik untuk dilihat.
Bukan tentang perempuan melawan laki-laki.
Bukan pula tentang laki-laki harus kalah dari perempuan.
Tetapi tentang dua manusia yang akhirnya memahami:
> Pernikahan bukan hadiah yang diberikan perempuan kepada laki-laki.
Pernikahan adalah kerja sama dua orang yang sama-sama memilih satu sama lain.
Dan kalau masyarakat sedang bergerak ke arah hubungan yang lebih setara, mungkin yang perlu dilakukan bukan marah kepada perempuan karena mereka berubah.
Belajarlah berubah bersama mereka.