Saturday, August 22, 2026

Pergeseran Standar Pasangan dan "Seleksi Alam" Pria Modern


Pergeseran Standar Pasangan dan "Seleksi Alam" Pria Modern


Fenomena penolakan perempuan terhadap relasi patriarkal yang merugikan—seperti tuntutan memiliki anak, menikah tanpa kesiapan, hingga hubungan dengan pria yang minim tanggung jawab—telah memicu pergeseran budaya yang masif. Keputusan perempuan untuk menentukan batas diri (*boundaries*) dan berani angkat bicara ternyata tidak hanya mengubah dinamika hubungan, tetapi juga menciptakan polarisasi tajam pada sikap pria di era modern.

### 1. Polarisasi Pria: Antara *Incel* dan Pria yang Berevolusi

Ketika kebergantungan finansial perempuan terhadap pria makin menipis, posisi tawar perempuan meningkat. Sikap pria di dunia nyata dan media sosial pun terbelah menjadi dua kutub ekstrem:

 * **Kelompok Terbelakang (*The Incel Group*):** Pria yang enggan berbenah dan minim kedewasaan emosional menganggap kebebasan perempuan sebagai ancaman. Alih-alih melakukan introspeksi, mereka meluapkan frstrasi dengan menyebarkan kebencian (*hating*), melakukan perundungan masal di media sosial, hingga bersikap agresif. Kelompok ini menolak berubah dan perlahan menjadi "monumen" dari jenis manusia yang ketinggalan zaman.

 * **Kelompok Kesadaran Baru (*The Evolved Men*):** Pria yang adaptif menyadari bahwa standar kemitraan telah berubah. Di berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Indonesia, mulai banyak pria yang secara sadar mengikuti kursus memasak, merawat bayi, hingga membagi peran domestik secara penuh. Mereka paham bahwa untuk mendapatkan perempuan yang mandiri dan berdaya, mereka harus menjadi mitra emosional yang seimbang.

### 2. Mitos "Terjebak Standar TikTok"

Sering ada tuduhan bahwa perempuan modern memiliki standar yang tidak realistis karena "terkontaminasi standar TikTok." Padahal, fenomena yang muncul di media sosial hari ini adalah gambaran pria-pria yang bangga menjadi *provider* sekaligus rekan domestik yang sigap—pria yang tetap maskulin dan gemar berolahraga, tetapi tidak sungkan menyapu, memasak, mengganti popok, atau memijat pasangan yang lelah.

Standar yang dipatok perempuan saat ini bukanlah kemewahan absurd, melainkan kebutuhan mendasar akan keberadaan **pasangan yang setara dan setia**.

### 3. Konsep Rumah Tangga "100:100", Bukan "Ngekos Bareng"

Model hubungan modern tidak lagi menganut pembagian 50:50 yang kaku—di mana perempuan dituntut bekerja mencari nafkah secara finansial, namun tetap dibebani 100% urusan domestik dan pengasuhan anak.

Pernikahan yang sehat dibangun atas kesadaran **100:100**:

 * Keduanya sama-sama berkontribusi secara penuh sesuai kapasitas.

 * Pria tidak lagi menganggap pekerjaan rumah tangga atau mengurus anak sebagai bentuk "membantu istri," melainkan sebagai kewajiban dan tanggung jawabnya sendiri.

 * Rumah tangga diposisikan sebagai ruang tumbuh bersama, bukan sekadar "patungan sewa kos" tanpa kehangatan emosional.

### 4. Algoritma Media Sosial sebagai Cermin Diri

Kegagalan sebagian pria dalam memahami perubahan zaman sering kali teermin dari keluhan mereka di media sosial. Ketika seorang pria terus-menerus terusik oleh konten perempuan yang memprotes pria tidak setia, malas, atau tidak bertanggung jawab, hal itu menandakan bahwa algoritma sedang memantulkan realitas dirinya sendiri.

Bukannya membaca sinyal bahwa zaman telah menuntut perubahan kepribadian menuju kedewasaan, mereka justru memilih untuk tetap bertahan dalam zona nyaman, egois, dan bertingkah bagai beban.

Pada akhirnya, perubahan standar ini menjadi bentuk seleksi alam yang alami. Pria yang memilih untuk terus belajar dan berbenah akan melangkah menuju hubungan yang sehat dan bermakna. Sementara mereka yang menolak bertumbuh akan tertinggal bersama kemarahannya sendiri.

Ketika Perempuan Berani Memilih, Laki-Laki Juga Harus Belajar Berubah

 .





Ada satu perubahan sosial yang menurut saya semakin jelas: perempuan semakin berani mengatakan tidak.


Tidak mau menikah.

Tidak mau punya anak.

Tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak menghargainya.

Tidak mau menjadi pengurus rumah tangga sekaligus ibu, sementara pasangan hanya merasa dirinya “membantu”.


Dan ketika perempuan mulai berani membuat pilihan seperti itu, reaksi laki-laki ternyata berbeda-beda.


Ada yang marah.


Ada yang merasa harga dirinya diserang.


Ada yang kemudian semakin membenci perempuan dan menyalahkan perempuan atas kesepian mereka.


Tetapi ada juga laki-laki yang justru melakukan sesuatu yang jauh lebih masuk akal:


bercermin.


Kalau saya tidak bisa menjadi pasangan yang baik, mengapa saya berharap perempuan tetap memilih saya?


Ini sebenarnya pertanyaan sederhana.


Kalau seorang laki-laki ingin memiliki pasangan, tetapi tidak mau belajar mengurus dirinya sendiri, tidak mau memasak, tidak mau membersihkan rumah, tidak mau mengurus anak, tidak mau terlibat secara emosional, dan menganggap semua itu “pekerjaan perempuan”, mengapa dia merasa perempuan harus tetap bersedia menikah dengannya?


Perempuan juga bekerja.


Perempuan juga punya karier.


Perempuan juga membayar kebutuhan rumah.


Perempuan juga lelah.


Maka rumah tangga bukanlah “kos bersama dengan patungan 50:50.”


Pernikahan adalah kehidupan bersama.


Dalam banyak hal, pasangan yang sehat bukan 50:50, tetapi 100:100.


Keduanya memberikan seluruh kemampuan yang mereka punya sesuai keadaan, bukan menghitung:


> “Aku sudah melakukan ini, berarti kamu harus melakukan itu.”




Menjadi pasangan bukan sekadar menjadi pencari nafkah


Laki-laki memang bisa memiliki tanggung jawab sebagai penyedia nafkah. Tetapi menjadi suami dan ayah tidak berhenti pada memberikan uang.


Ada bayi yang harus digendong.


Ada popok yang harus diganti.


Ada makanan yang harus dimasak.


Ada cucian yang harus dilipat.


Ada rumah yang harus dibereskan.


Ada istri yang mungkin pulang dalam keadaan sangat lelah.


Ada anak yang membutuhkan ayahnya.


Dan semua itu bukan pekerjaan “membantu istri”.


Itu pekerjaan anggota keluarga.


Saya justru senang melihat semakin banyak laki-laki muda di Asia yang mulai menunjukkan hal semacam ini di media sosial.


Ada laki-laki yang bekerja kantoran, pergi ke gym, punya karier, tetapi pulang ke rumah tetap memasak.


Ada yang belajar baking.


Ada yang belajar mengurus bayi.


Ada yang mengganti popok, memandikan anak, membuat bubur, mencuci pakaian, mengambil jemuran dan melipatnya.


Ada yang menggendong bayinya sementara istrinya beristirahat.


Bahkan ada yang memijat istrinya ketika istrinya kelelahan.


Dan menurut saya, itu bukan hilangnya maskulinitas.


Justru sebaliknya.


Itu menunjukkan bahwa seorang laki-laki cukup dewasa untuk memahami bahwa keluarganya bukan hotel yang menyediakan layanan gratis.


Perempuan juga sedang berubah


Perempuan sekarang melihat lebih banyak pilihan hidup.


Mereka bisa bekerja.


Bisa hidup mandiri.


Bisa mendapatkan pendidikan.


Bisa memilih tidak menikah.


Bisa memilih tidak mempunyai anak.


Karena itu, standar hubungan juga berubah.


Pertanyaan perempuan bukan lagi hanya:


> “Apakah laki-laki ini bisa menghidupi saya?”




Tetapi juga:


> “Apakah hidup saya akan menjadi lebih baik jika saya hidup bersamanya?”




Itu pertanyaan yang sangat berbeda.


Kalau seorang perempuan bekerja delapan jam sehari lalu pulang dan masih harus mengurus seluruh rumah, memasak, membersihkan, mengurus anak, mengingat jadwal sekolah, membeli kebutuhan rumah, mengurus kesehatan keluarga, sekaligus menjadi tempat curhat suaminya—sementara suaminya merasa tugasnya selesai setelah membawa pulang gaji—


maka perempuan punya alasan untuk bertanya:


“Untuk apa saya menikah?”


Media sosial sebenarnya memperlihatkan dua kemungkinan


Sering ada keluhan bahwa perempuan sekarang memiliki standar hubungan yang tidak realistis karena TikTok dan Instagram.


Tetapi ada sisi lain yang jarang dibicarakan.


Laki-laki juga melihat contoh laki-laki lain yang menjadi pasangan yang baik.


Mereka melihat pria yang setia.


Pria yang menyayangi anaknya.


Pria yang memasak.


Pria yang membersihkan rumah.


Pria yang mau belajar merawat bayi.


Pria yang hadir secara emosional untuk istrinya.


Jadi kalau seorang laki-laki merasa:


> “Kenapa perempuan sekarang menuntut macam-macam?”




mungkin ada baiknya melihat apa yang sebenarnya dituntut perempuan.


Apakah mereka meminta sesuatu yang mustahil?


Atau sebenarnya mereka hanya meminta:


kesetiaan, rasa hormat, tanggung jawab, kebersihan, kemampuan mengurus diri, kemampuan mengurus rumah, dan kemauan menjadi partner?


Kalau standar itu terasa terlalu tinggi, mungkin masalahnya bukan standar perempuan.


Ketika perempuan berkata “tidak”, jangan selalu menganggapnya sebagai serangan


Ada laki-laki yang ketika ditolak langsung mencari kambing hitam.


Perempuan dianggap terlalu pemilih.


Terlalu feminis.


Terlalu banyak menuntut.


Terpengaruh TikTok.


Tidak tahu bersyukur.


Padahal mungkin pesan yang lebih sederhana sedang muncul:


> “Cara lama tidak lagi bekerja.”




Dan menurut saya, laki-laki yang paling siap menghadapi masa depan bukanlah laki-laki yang berusaha memaksa perempuan kembali menerima standar lama.


Melainkan laki-laki yang berkata:


> “Kalau saya ingin memiliki pasangan yang mandiri, saya juga harus menjadi pasangan yang layak bagi perempuan mandiri.”




Itu bukan kekalahan.


Itu adaptasi.


Akan selalu ada orang yang memilih tidak berubah


Tentu saja, kita tidak bisa berharap semua orang berubah.


Akan selalu ada laki-laki yang merasa perempuan harus tunduk.


Akan selalu ada yang menganggap pekerjaan rumah adalah pekerjaan perempuan.


Akan selalu ada yang menganggap dirinya berhak mengontrol pasangan.


Dan akan selalu ada orang yang memilih marah daripada belajar.


Tetapi mungkin kita tidak perlu menghabiskan seluruh energi untuk meyakinkan mereka.


Biarkan perubahan sosial berjalan.


Generasi baru akan menentukan sendiri hubungan seperti apa yang mereka inginkan.


Laki-laki yang mampu beradaptasi akan menemukan pasangan yang juga ingin membangun kehidupan bersama.


Laki-laki yang tidak mau berubah harus menerima bahwa perempuan juga memiliki hak untuk berkata:


> “Kalau begitu, saya memilih hidup sendiri.”




Dan bagi saya, itulah salah satu perubahan yang paling menarik untuk dilihat.


Bukan tentang perempuan melawan laki-laki.


Bukan pula tentang laki-laki harus kalah dari perempuan.


Tetapi tentang dua manusia yang akhirnya memahami:


> Pernikahan bukan hadiah yang diberikan perempuan kepada laki-laki.


Pernikahan adalah kerja sama dua orang yang sama-sama memilih satu sama lain.




Dan kalau masyarakat sedang bergerak ke arah hubungan yang lebih setara, mungkin yang perlu dilakukan bukan marah kepada perempuan karena mereka berubah.


Belajarlah berubah bersama mereka.

Monday, February 20, 2023

Puber kedua pada pria dan perselingkuhan

Denger deddy issue ini jadi paham bahwa pria di usia sekitar 40 tahun masuk puber kedua. Sedang wanita di usia 40 tahun insting dan kondisi fisiknya menjaga pertumbuhan anak anaknya. Pria puber kedua yg tidak matang dan jahat, menjadikan kondisi puber keduanya dan hasrat seksualnya terhadap wanita yg kelihatan muda dalam perilaku perselingkuhan. Bukannya menerima dan mengaku kalau sekarang sedang kondisi puber kedua dan minta istrinya kalau bisa mengikuti harapannya buat berdandan/didandani kelihatan sama sama muda. Laki laki dewasa yang matang, bijaksana dan mapan mental dan finansialnya biasanya akan bilang sm istrinya "kayaknya puber kedua, nih.  kita coba yuk sama sama bersemangat muda dan mengingat masa muda kita dulu pas pacaran" dengan begitu puber keduanya terjadi harmonis dan meminimalisir konflik. Tapi bila berselingkuh dengan wanita yg lebih muda, dia lari dari kenyataan bahwa sebenarnya dia sudah mulai menuju usia tua. Ketika aktivitas seksual dengan selingkuhannya yg muda berakhir. dia merasa jadi tua lagi, jadi bapak lagi dan pikirannya  berpikir lagi gimana caranya aku harus kembali merasa muda lagi. Tindakannya justru makin parah dengan konsumsi obat kuat dan makanan minuman stamina buat mengimbangi selingkuhan mudanya, yg bisa berbahaya buat jantungnya sendiri. Kalau sekarang baru ramai wanita bisa kelihatan awet muda karena childfree, ini sudut pandang dari dari deddy yg seorang pria tentang bertambah usia dari sisi psikologis dan biologis.

https://noiceid.onelink.me/cyOg/6u8b9qvo 

Monday, May 10, 2021

Kanjeng Ratu Kidul



Kanjeng Ratu Kidul disebutkan sebagai Roh Suci yang mempunyai sifat mulia dan baik hati, Pada umumnya dia menampakkan diri hanya untuk memberi isyarat / peringatan akan datangnya suatu kejadian penting. Kanjeng Ratu Kidul memiliki kuasa atas ombak keras samudra Hindia dari istananya yang terletak di jantung samudra. penelitian atropologi dan kultur masyarakat Jawa dan Sunda mengarahkan bahwa legenda Ratu Laut Selatan Jawa kemungkinan berasal dari kepercayaan animistik prasejarah yang jauh lebih tua lagi, dewi pra-Hindu-Buddha dari samudra selatan yang membaur dengan pandangan setempat tentang Nyegara Gunung, dimana segara (laut) sebagai manivestasi ibu dan bumi serta gunung sebagai manisvestasi bapak atau langit. Antropolog Belanda Roy E. Joordan, setelah meneliti sosok Ratu Kidul, berpendapat bahwa sosok tersebut sudah lama ada di tanah Jawa, bahkan ada sebelum masuknya Hindu ke Nusantara. Pada jaman Hindu-Budha, menurut Roy, sosok Ratu Kidul sering diidentikkan dengan dewi Tara Hijau.
Tapi, setelah masuknya agama Samawi ke tanah Jawa, sosok ini menjelma menjadi semacam ratu bangsa jin seperti yang digambarkan pada Babad Tanah Jawi. Semenjak itu, sifat angker melekat pada Ratu Kidul, padahal sebagai Tara hijau, sosok ini dahulunya dianggap sebagai sosok penyelamat dari marabahaya. Dewi Tārā sendiri mewujudkan banyak kualitas prinsip feminin. Dia dikenal sebagai Bunda pemelihara, Pengasih dan Pengasuh. Dia adalah sumber, aspek perempuan dari alam semesta, yang melahirkan kehangatan, welas asih, dan kelegaan dari karma buruk seperti yang dialami oleh makhluk biasa dalam siklus kehidupan. Dia melahirkan, memelihara, tersenyum pada ciptaan, dan memiliki simpati untuk semua makhluk seperti yang dilakukan seorang ibu untuk anak-anaknya. #KanjengRatuKidul #RatuKidul #indonesia #goddess #myth #draw #drawing #art #arts #illust #illustrator #illustration #illustrations #drawings #sketch #sketches #pencildraw #pencildrawing #pencilsketch #pencilart #watercolor

Sunday, May 9, 2021

Nyi Roro Kidul




 Nyi Roro Kidul dikenal sebagai tokoh Mitologi yang beredar di sekitar Wilayah Laut Selatan. Disebut sebagai bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul berwujud wanita yang cantik molek dengan atribut baju hijau. Nyi Roro Kidul dipercaya menjabat sebagai patih Kanjeng Ratu Kidul yang memimpin bala tentara laut selatan. Tapi banyak juga yang menyamakan Nyi Roro kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai sosok yang sama. Nyi Roro Kidul juga disebutkan menjadi Juru pesan bagi Kanjeng Ratu Kidul. Terkadang disebut memberikan cobaan kepada orang yg bertapa, apabila orang tersebut lulus ujian maka keinginan hatinya terkabulkan. Legenda Nyi roro kidul yang berasal dari Kerajaan Sunda Pajajaran berumur lebih tua daripada legenda Kerajaan Mataram dari abad ke-16. Meskipun demikian, penelitian atropologi dan kultur masyarakat Jawa dan Sunda mengarahkan bahwa ceritera legenda Ratu Laut Selatan Jawa kemungkinan berasal dari kepercayaan animistik prasejarah yang jauh lebih tua lagi, dewi pra-Hindu-Buddha dari samudra selatan. #NyiRoroKidul #goddess #dewi #myth #draw #drawing #art #arts #illust #illustrator #illustration #illustrations #drawings #sketch #sketches #illust #pencilsketch #pencildrawing #colorpencil #coloredpencil #Indonesia #watercolor #pencildraw #pencilart


Nyi Blorong

 



Nyi Blorong merupakan sosok legenda Indonesia yang berwujud wanita cantik, bertubuh manusia dari pinggang ke atas, dan berwujud ular dari pinggang ke bawah. Ia merupakan panglima terkuat yang dimiliki oleh Kanjeng Ratu Kidul. Nyi Blorong dipercaya dapat mendatangkan kekayaan bagi orang yang tertarik mengajaknya untuk bersekutu. Setiap kedatangan Nyi Blorong, ia akan meninggalkan kepingan-kepingan emas. Emas tersebut konon sebenarnya merupakan sisik-sisik tubuhnya. Meruntut kebelakang, Mahluk mitologi setengah manusia setengah ular dalam mitologi Hindu adalah bangsa Naga ( Pria ) Nagi ( Wanita ) makhluk setengah dewa, setengah manusia. Mereka adalah mahluk yang kuat dan menawan yang dapat mengambil bentuk manusia seluruhnya atau seluruhnya berbentuk ular dan berpotensi berbahaya tetapi seringkali bermanfaat bagi manusia. Mereka tinggal di sebuah kerajaan bawah tanah yang disebut Naga-loka, atau Patala-loka, yang dipenuhi dengan istana-istana megah, yang dihiasi dengan indah permata-permata berharga. Dewa pencipta Brahma menurunkan naga ke wilayah bawah ketika mereka menjadi terlalu padat di bumi dan memerintahkan mereka untuk hanya menggigit yang benar-benar jahat atau mereka yang ditakdirkan untuk mati sebelum waktunya. Mereka juga terkait dengan air — sungai, danau, laut, dan sumur — dan merupakan penjaga harta karun ( yg di maksud adalah tanah yag kaya kekayaan alam, tambang dan fosil mineral seperti Intan, permata, berlian, emas, batu bara dll ) bagaiman sosok Naga yang Merupakan mahluk setengah dewa itu menjadi menakutkan, pesugihan, jin, mahluk halus seperti sekarang ini? Hal ini bisa dijelaskan dengan istilah antropologis yaitu demonisasi, sebuah proses pencitraan yang mengubah sesuatu menjadi sosok negatif yang menakutkan. Hal ini kerap terjadi pada sosok-sosok yang terdapat dalam agama atau sistem kepercayaan yang tergantikan oleh yang baru. #NyiBlorong #Naga #nagaloka #goddess #dewi #myth #draw #drawing #art #arts #illust #illustrator #illustration #illustrations #drawings #sketch #sketches #illust #pencilsketch #pencildrawing #colorpencil #coloredpencil #Indonesia #watercolor #pencildraw #pencilart


Dewi Lanjar

 



Dewi Lanjar #DewiLanjar Ratu Laut Utara adalah sosok legenda penguasa laut utara pulau Jawa, khususnya di utara Pekalongan, Jawa Tengah.
#goddess #dewi #myth #draw #drawing #art #arts #illust #illustrator #illustration #illustrations #drawings #sketch #sketches #illust #pencilsketch #pencildrawing #colorpencil #coloredpencil #Indonesia #watercolor #pencildraw #pencilart

Perpuluhan, Buah sulung, Janji iman dalam ayat Alkitab

Rujukan ayat-ayat Alkitab terkait praktik persembahan, persepuluhan, serta konsep-konsep yang sering digaungkan di gereja modern: 1. Persemb...